Dr. Susetya Herawati

Bangsa Indonesia dibangun di atas dua modal utama: pembangunan jiwa melalui pendidikan dan pembangunan badan melalui infrastruktur. Seperti lirik Indonesia Raya, “Bangunlah jiwanya, bangunlah badannya”. Dua-duanya harus seiring sejalan karena ini takdir dan proses peradaban kita. Tanpa jiwa yang kuat, infrastruktur hanya jadi beton kosong. Tanpa badan yang kokoh, cita-cita hanya jadi angan.

Hari ini persoalan hidup dan mati bangsa itu bernama krisis lingkungan. Dan di jantung krisis itu ada satu bom waktu yang jarang kita sadari: sampah organik. Timbunan sampah di Tempat Pembuangan Akhir terus menghasilkan gas metana. Dalam 20 tahun pertama, metana 80 kali lebih berbahaya daripada CO₂ dalam memerangkap panas. Jika dibiarkan, sampah bukan sekadar soal estetika kota. Ia adalah bom metana yang akan meledak di pangkuan anak cucu kita. Pendidikan harus menyadarkan hal sederhana ini: setiap kantong plastik sekali pakai dan setiap sisa makanan adalah bagian dari tanggung jawab moral kita. Sampah kita hari ini adalah racun bagi generasi mendatang.

Dua modal, satu kesadaran
Indonesia adalah desain peradaban yang kokoh karena berparadigma Pancasila, berpijak pada konstitusi, semangat proklamasi pembebasan dari penjajahan, Bhinneka Tunggal Ika, Sumpah Pemuda, NKRI, serta wawasan Nusantara dan kebangsaan. Para pendiri bangsa sudah menulis jalannya dengan sangat baik: bangun jiwanya lewat pendidikan, bangun badannya lewat infrastruktur.

Ki Hajar Dewantara pernah menegaskan bahwa kebudayaan adalah kemampuan manusia menggampangkan hidupnya dan memperbesar hasil hidupnya. Itu hanya bisa dicapai lewat pendidikan yang meninggikan pikiran, rasa, dan kemauan. Beliau juga mengingatkan tahun 1928: pengajaran harus bersifat kebangsaan. Kalau anak-anak tidak diajarkan dengan kenasionalan, mereka akan terpisah dari bangsanya, bahkan mungkin jadi lawan. Nasionalisme tidak pernah usang. Hari ini nasionalisme harus punya wajah hijau. Cinta tanah air tidak cukup dengan bendera dan lagu. Ia harus dibuktikan dengan menjaga sungai, hutan, dan udara yang kita hirup. Tanpa karakter hijau, nasionalisme kehilangan makna.

Tri Matra pendidikan: Fondasi karakter hijau
Pendidikan hijau bertumpu pada Tri Matra: Kebangsaan, Etika, dan Logika. Ketiganya diikat oleh agama sebagai fondasi spiritual.

Kebangsaan memiliki tiga dimensi yang saling menguatkan. Tanah Air Fisik adalah wilayah geografis kita: gunung, sungai, danau, laut, dan hutan. Menjaga lingkungan berarti menjaga tanah air fisik itu sendiri. Tanah Air Formal adalah aturan hukum dan konstitusi yang mengikat kita sebagai warga negara. Pendidikan hijau menanamkan kepatuhan hukum dalam pengelolaan lingkungan, karena Pasal 28H UUD 1945 menjamin hak atas lingkungan baik, dan UU 32/2009 mewajibkan partisipasi masyarakat. Tanah Air Mental adalah ideologi dan rasa keterikatan batin pada bangsa. Karakter hijau berarti rela berkorban demi kepentingan lingkungan bangsa, di atas kepentingan pribadi dan kelompok.

Etika adalah dimensi moral yang membentuk akhlak mulia. Dalam konteks hijau, etika berarti kejujuran mengelola sumber daya, integritas untuk tidak merusak alam demi keuntungan sesaat, dan tanggung jawab sosial untuk menjaga lingkungan bersama. Etika inilah yang membedakan manusia beradab dengan penjarah alam.

Logika adalah kemampuan berpikir kritis dan analitis. Pendidikan hijau menumbuhkan logika agar generasi muda mampu menganalisis dampak sampah terhadap iklim, menemukan solusi kreatif untuk energi terbarukan dan pengelolaan limbah, serta berpikir sistematis merancang kebijakan lingkungan. Logika tanpa etika melahirkan teknokrat oportunis. Etika tanpa logika melahirkan aktivis tanpa arah.

Peran agama: Amanah untuk memelihara bumi
Semua agama di Indonesia menegaskan bahwa menjaga alam adalah perintah ilahi. Islam mengingatkan lewat QS Al-A’raf 7:56: “Dan janganlah kamu berbuat kerusakan di bumi setelah ia diciptakan dengan baik”. QS Ar-Rum 30:41 menegaskan: “Telah tampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan perbuatan tangan manusia”. Kristen menulis dalam Kejadian 2:15 bahwa Tuhan menempatkan manusia di taman Eden “untuk mengusahakan dan memelihara taman itu”. Hindu dan Buddha menekankan keseimbangan alam dan hukum karma. Kepercayaan lokal seperti Sunda Wiwitan dan Kaharingan mengajarkan penghormatan pada hutan dan sungai sebagai tempat suci, dengan ritual adat dan tabu untuk melindungi alam.

Agama menegaskan bahwa hubungan manusia dengan Tuhan tidak bisa dipisahkan dari tanggung jawab terhadap bumi. Merusak lingkungan sama dengan mengkhianati amanah.

Generasi muda sebagai agen hijau
Generasi muda usia 16-30 tahun menurut UU Kepemudaan dituntut jadi pembelajar sepanjang hayat, melek digital, kritis, kreatif, kolaboratif, dan humanis. Tapi tanpa karakter hijau, kecerdasan digital hanya akan mempercepat kerusakan. Bayangkan teknologi canggih dipakai untuk menambang tanpa reklamasi, atau media sosial dipakai untuk promosi gaya hidup konsumtif. Pendidikan harus melahirkan pemimpin muda yang berani berkata lantang: “Sampah bukan sekadar masalah rumah tangga, melainkan bom metana bagi bangsa”.

Generasi ini harus menguasai ilmu kepemimpinan dan keterampilan abad 21, tapi tetap berpijak pada keindonesiaan, budaya lokal, dan merawat alam. Mereka harus paham: modal manusia Indonesia bisa jadi kekuatan dahsyat, tapi bisa juga jadi beban bahkan bencana.

Pendidikan sebagai penjuru perubahan
Pendidikan adalah tanggung jawab banyak pihak: orang tua lewat jalur informal, masyarakat lewat jalur non-formal, dan sekolah lewat jalur formal. Ketiganya harus bersinergi.

Pendidikan formal menjadi penjuru karena jangkauannya luas, prosesnya cepat, ada pendidik kompeten, kurikulum terstruktur sesuai tahap perkembangan anak, dan ada evaluasi. Dengan catatan: the right education. Pendidikan yang salah hanya melahirkan generasi yang pintar tapi merusak.

Seperti filosofi kuno: jika kamu berencana tiga bulan, tanamlah padi. Jika berencana 10 tahun, tanamlah pohon. Jika berencana selama berabad-abad, kembangkan manusia. Membangun karakter hijau adalah investasi jangka panjang bangsa. Ia mengikat spiritualitas, sosialitas, dan ekologis dalam satu kesadaran utuh.

Penutup: Pilihannya ada pada kita
Pendidikan hijau bukan tambahan kurikulum. Ia adalah inti pembangunan manusia Indonesia. Ia menjawab tantangan SDG’s yang menuntut pembangunan berkelanjutan berbasis HAM dan kesetaraan. Ia menjawab krisis metana yang mengancam iklim. Ia menjawab panggilan Pancasila dan konstitusi.

Jika pendidikan gagal menumbuhkan karakter hijau, maka sekolah hanya mencetak generasi oportunis yang abai pada bumi. Tapi jika pendidikan berhasil, maka setiap anak Indonesia akan tumbuh dengan kesadaran: menjaga bumi adalah menjaga martabat bangsa.

Sampah kita hari ini menentukan nasib anak cucu esok. Pilihan ada pada kita: mendidik untuk punah, atau mendidik untuk lestari. Pendidikan hijau. Sekarang.

Penulis : Tim Ahli Penggiat Lingkungan Rumah SOPAN, Penggiat Ranah Tata Nilai Aliansi Kebangsaan